Notice: Fungsi Elementor\Controls_Manager::add_control_to_stack ditulis secara tidak benar. Cannot redeclare control with same name "eael_image_masking_upload_pro_message". Silakan lihat Debugging di WordPress untuk informasi lebih lanjut. (Pesan ini ditambahkan pada versi 1.0.0.) in /home/staipija/public_html/wp-includes/functions.php on line 6121
Jakarta, 6 Oktober 2025 – Dalam rangka mengintensifkan kajian isu-isu geopolitik kontemporer kontemporer dari perspektif akademik dan keislaman, Sekolah Tinggi Agama Islam Persatuan Islam (STAI Persis) Jakarta menyelenggarakan Kuliah Tujuh Menit (Kultum) spesial pada Senin, 6 Oktober 2025. Kegiatan ini menghadirkan tokoh penting, Dr. Ahed Abu Al-Atta, Direktur Yayasan Persahabatan dan Studi Peradaban (YPSP), yang secara mendalam mengulas isu Palestina.Audiens yang terdiri dari civitas akademika—khususnya mahasiswa program studi Komunikasi Penyiaran Islam (KPI), Hukum Ekonomi Syariah (HES), dan I’dad Bahasa Arab—bersama masyarakat umum, menyimak pemaparan yang memadukan analisis historis, hukum, dan dimensi kejiwaan perjuangan bangsa Palestina.Kultum ini secara profesional difasilitasi oleh Ustaz Alit Rosad Nurdin, Lc., M.A.Pd., Wakil Ketua IV STAI Persis Jakarta, yang bertugas sebagai penerjemah. Peran beliau vital dalam memastikan transmisi wacana akademik Dr. Ahed tersampaikan dengan akurasi linguistik dan ketajaman konteks.Dalam analisisnya, Dr. Ahed Abu Al-Atta menggarisbawahi pentingnya rekonstruksi narasi Palestina di ranah intelektual. Dengan menggunakan kalimat aktif yang sarat makna, beliau mengajak audiens untuk melakukan dekonstruksi pemahaman yang parsial.”Kita wajib mendalami akar historis konflik ini agar mampu merumuskan solusi yang berkeadilan dan lestari,” tegas Dr. Ahed, yang diterjemahkan dengan lugas oleh Ustaz Alit Rosad Nurdin.Beliau juga menyoroti dimensi kejiwaan yang terpancar dari keteguhan masyarakat Palestina. “Kekuatan spiritual dan kesabaran kolektif mereka membentuk resistensi mental yang tidak dapat dipatahkan oleh agresi fisik,” kata Dr. Ahed, yang diterjemahkan sebagai, “Beliau menyatakan bahwa ketahanan psikologis rakyat Palestina merupakan basis kekuatan utama yang melampaui segala bentuk tekanan.”
Ustaz Alit Rosad Nurdin, dalam terjemahannya, turut memperkuat aspek emosional dan intelektual dari materi. “Beliau (Dr. Ahed) mengajak kita semua untuk tidak hanya berempati, tetapi juga menginternalisasi perjuangan mereka sebagai bagian dari tugas kemanusiaan universal,” terangnya, menguatkan bahwa pemahaman akademik harus berkelindan dengan solidaritas afektif.Kehadiran mahasiswa dari prodi-prodi spesifik ini menunjukkan komitmen STAI Persis Jakarta dalam mengintegrasikan isu global ke dalam kurikulum. Mahasiswa HES didorong untuk menganalisis dimensi hukum dan ekonomi konflik; mahasiswa KPI diharapkan mampu merumuskan strategi komunikasi yang efektif untuk advokasi; sementara mahasiswa I’dad Bahasa Arab memiliki akses langsung terhadap sumber-sumber primer tentang isu ini.Kegiatan ini secara eksplisit memperkuat peran kampus sebagai sentra kajian ilmiah yang tidak tercerabut dari realitas sosial dan kemanusiaan global. Hal ini sejalan dengan upaya STAI Persis Jakarta dalam mencetak lulusan yang profesional, berwawasan global, dan memiliki sensitivitas kejiwaan tinggi terhadap isu-isu keadilan.


